Gong Xi Fa Chai. Kampung Sudiroprajan di kawasan Pasar Gedhe Solo ini merupakan kampung pecinan. Setiap menjelang perayaan tahun baru Imlek, kawasan ini selalu berhias dengan cantiknya. Lampion dan hiasan bercorak budaya China nampak terlihat di sini. Imlek tahun ini, di Solo sangat meriah dan lebih menarik dari tahun sebelumnya. Pesta kembang api, sedekah bumi, Grebeg Sudiro, dll turut meramaikan datangnya tahun ular air ini.
Bis Tingkat. Sebagaimana diketahui bahwa di Solo dulu, ketika saya masih kecil sudah ada moda transportasi bis tingkat yang dikelola oleh DAMRI. Kala itu, bis tingkat dikategorikan sebagai transportasi umum sehingga tarifnya murah seperti angkutan lainnya dengan beberapa rute yang disediakan. Nah, untuk sekarang ini. bis tingkat tersebut karena alasan sudah tua, maka diistirahatkan untuk selamanya. Beberapa tahun terakhir, Kota Solo meluncurkan bis tingkat yang dinamakan Werkudara. Bis tingkat ini sudah bukan lagi sebagai transportasi umum, namun sebagai bis wisata keliling Solo. Sehingga tarifnya pun lebih mahal dari yang dulu. Begitulah menurut saya untuk menjawab mural di foto tersebut.
Mural. Sebuah pesan yang saya jumpai di lampu merah jalan Ahmad Yani Solo ini unik dan menarik. Sebuah ajakan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang dituangkan dalam sebuah seni mural. Seiring dengan itu, pada tahun 2013 ini Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi kota Solo akan lebih gencar bersosialisasi kepada warga Solo untuk sadar dan tertib berlalu lintas dengan mengusung motto “Tertib berlalu lintas, cermin budaya Wong Solo”.
Sate Kere — adalah salah satu kuliner khas kota Solo. Yaitu sate yang terbuat dari tempe gembus dan jeroan sapi. Sate kere di Solo bisa dijumpai di Ngarsopuro, teras Singosaren Plaza, dan Gandekan. Yang paling terkenal yaitu sate kere Yu Rebi Belakang Sriwedari, tapi sate kere Yu Rebi ini juga bisa bikin kere beneran. Karena satu porsi bisa sampai 25.000. Ha mending sate kambing sisan!
So Slow at Solo. Sebuah potret tentang kota Sala (yang lazim disebut Solo) yang begitu lambat, lembut dan penuh dengan tradisi budaya. Kamu bisa menikmati keliling keraton Kasunanan Surakarta dengan naik Andong, yaitu kendaraan tradisional yang bertenaga kuda. Welcome to Solo, The Spirit of Java!
Masjid Agung — Gapura utama masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta yang bercorak Arab-Persia ini dibangun pada masa pemerintahan ISKS Pakubuwana X. Sebelumnya, gapura ini pada masa Pakubuwana IV bercorak Jawa dan beratap Limasan.
Toko Podjok — Sebuah toko kopi yang terletak di pojok utara Pasar Gedhe Solo. Di sini lah surganya para penikmat kopi. berbagai macam kopi bubuk dan biji kopi dari berbagai daerah bisa kamu jumpai. Mampir lah ketika berkunjung ke Solo.
Pasar Gedhe Hardjonagoro — tata jendela yang bagus dengan gaya kolonial ini diarsiteki oleh Thomas Karsten. Di Pasar Gedhe ini, kamu bisa mencicipi kuliner khas Solo yaitu es dawet Yu Dermi yang sekarang sudah turun-temurun sampai generasi ketiga. Di sebelah timur pasar, kita bisa mencoba Timlo Sastro yang juga kuliner aseli Solo.
Railbus Bathara Kresna — Sebuah ikon baru Kota Solo yang di-launching pada 2011 silam. Railbus ini akan memanfaatkan rel KA yang melintas di tengah kota Solo. Tapi entah kenapa sampai sekarang belum beroperasi juga. Sidane piye?
Tugu sebagai ikon wilayah — Tugu yang dilengkapi jam ini berada tepat di depan Pasar Gedhe Hardjonagoro, Solo. Keberadaannya sebagai ikon wilayah Pasar Gedhe sudah melekat erat sejak pasar itu pertama dibangun pada tahun 1930 oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten.
Selat Mbak Lies ~ Sebuah Kuliner Khas Solo yang paling terkenal. Mak nyuuss!
Handycraft yang menggambarkan suasana wedangan. Sebuah tempat kongkow paling khas dari Kota Solo.